Kegiatan belajar mengajar (KBM) bukan hal yang bisa dikatakan mudah. Banyak faktor yang mempengaruhi proses tersebut. Guru, sebagai bagian tak terpisahkan dari proses tersebut kadang diberikan beban yang berat dalam mensukseskan program dan mencapai tujuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa sudah bukan era-nya lagi guru menjadi center dalam KBM. Akan tetapi, pengalaman saya mengatakan bahwa siswa Indonesia, dalam hal ini, saya persempit dengan siswa Jombang, tampaknya belum siap untuk diajak berpikir kritis dan bertanggung jawab sendiri terhadap keberhasilan mereka dalm belajar. Mereka menggantungkan banyak hal kepada guru. Lebih tragis lagi, jika ternyata secara materi, guru kurang menguasai. Yang terjadi adalah siswa memperoleh informasi yang salah. Tidak ada sosok yang sempurna dalam bidang apapun. Berangkat dari pemahaman ini, siswa tidak dianjurkan untuk 100% bergantung kepada guru. Guru bisa saja salah. Guru bisa saja tidak menampilkan keterampilan mengajar yang bagus.
Dari banyaknya keluhan siswa tentang pengajaran guru yang kurang menyenangkan membuat saya berpikir, kira-kira ada apa dengan mereka.
Dari perenungan dan diskusi yang saya lakukan, saya menyimpulkan (tentunya bukan kesimpulan final) bahwa siswa berangkat ke sekolah tnpa persiapan materi padahal kita tahu mereka sudah punya bahan untuk dipelajari dan guru tidak henti2nya mengingatkan agar dibaca dan dipelajari. Akhirnya yang terjadi adalah siswa tidak ada motivasi untuk tahu apa yang akan diterangkan guru mereka. Alhasil, mereka juga tidak ada bahan bertanya. Tampaknya hal ini terjadi berlarut-larut. Siswa tidak bisa mengikuti pelajaran dengan 'sesuatu' yang ada di otak yang memungkinkan mereka menyerap apa-apa yang diajarkan guru. Dalam istilah lainnya, tidak ada enzim pencernanya. Sehingga makanan (ilmu) yang nyata-nyata dicekokkan guru ke pencernaan (memori) mereka hanya lewat saja.
Saya sangat direpotkan dengan ketidak siapan siswa. Karena selalu ketinggalan pelajaran yang diakibatkan tidak adanya persiapan sebelum berangkat ke sekolah, siswa tidak pernah siap menghadapi tes. Bagi siswa pecinta instant method, mereka ngerpek dan nyontek (cheating). Untuk fenomena yang satu ini saya angkat tangan. Sejak saya jadi siswa sampai jadi guru seperti sekarang ini, saya bosan melihat kebiasaan buruk putra-putri bangsa ini yang katanya terpelajar (educated).
kerugian saya akibat kebiasaan buruk ini, adalah jika semasa jadi pelajar saya harus mati2an belajar karena harus mengejar nilai rata-rata kelas yang tinggi akibat praktik contekan dan kerpekan. Saat jadi guru, saya enggan mengkoreksi. Saya tidak melihat tumpukan kertas itu layak dikoreksi karena tidak ada usaha jujur di dalamnya. Pertanyaan saya adalah, pertama, bagaimana cara agar siswa termotivasi mempersiapkan diri sebelum menerima pelajaran.Kedua, bagaimana cara mengajari siswa untuk jujur dalam belajar.
Dua pertanyaan ini membuat saya berpikir keras. Belum lagi masalah lain yang berkaitan dengan moral yang cenderung merosot.
Jumat, 20 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar